Multiple Intelegency

MULTIPLE INTELEGENCY

Multiple IntelegencyA.      PENGERTIAN

Konsep ‘Multiple Intelligences’ menyediakan kesempatan pada anak untuk mengembangkan bakat emasnya sesuai dengan kebutuhan dan minatnya.

Konsep Multiple Intelligences juga mengajarkan kepada anak bahwa mereka bisa belajar apapun yang mereka ingin ketahui. Apapun yang ingin diketahuinya itu dapat ditemui di dalam kehidupan nyata yang dapat mereka alami sendiri. Sementara, bagi orangtua maupun guru, yang dibutuhkan hanya kreatifitas dan kepekaan untuk mengasah kemampuan anak. Baik orang tua maupun guru juga harus mau berpikir terbuka, keluar dari paradigma tradisional.

Ada banyak cara untuk menjadi cerdas. Kalau ada banyak cara, berarti ada banyak tanda pula untuk melihat kecerdasan anak. Tanda itu bukan hanya dapat dilihat dari prestasi akademiknya di sekolah, atau mengikutkan anak kedalam tes intelegensia saja. Anak-anak dapat memperlihatkan kecerdasannya lewat banyak cara. Cara itu misalnya melalui kata-kata, angka, musik, gambar, kegiatan fisik (kemampuan motorik) atau lewat cara sosial-emosional. Hal itu karena, menurut Thomas Armstrong, Ph.D, periset kecerdasan anak dan penulis buku ‘In Their Own Way : Discovering and Encouraging Your Child’s Multiple Intelligences’, semua anak terlahir cerdas dan berbakat. Kalaupun ada yang tampak tak menonjol, itu karena beberapa anak menunjukkan bakatnya lebih lambat dibanding anak lain.

Karenanya, banyak hasil-hasil riset kecerdasan anak menyarankan para orangtua untuk memberi banyak pengalaman dan stimulasi kepada anak. Stimulasi dan sensasi pengalaman yang intens itu berguna untuk segera membangkitkan kecerdasan anak. Jadi tak ada lagi istilah ‘anak menunjukkan bakat lebih lambat’. Fakta-fakta riset itulah yang kemudian oleh Prof. Howard Gardner, seorang psikolog dan pakar ilmu saraf dari Universitas Harvard, AS tahun 1983 dikristalkan ke dalam konsep teori kecerdasan yang disebutnya ‘Multiple Intelligences’ atau Kecerdasan Majemuk/Ganda.

B. Sembilan Kecerdasan Ganda yang Dimiliki Anak

1. Visual/Spatial (Cerdas Gambar/Picture Smart)

Anak belajar secara visual dan mengumpulkan ide-ide. Mereka lebih berpikir secara konsep (holistik) untuk memahami sesuatu. Kemampuan untuk melihat ‘sesuatu’ di dalam kepalanya itu mampu membuat dirinya pandai memecahkan masalah atau berkreasi. Contoh arsitek designer.

Ciri-ciri cerdas gambar adalah :

1.       Suka membuat dan mempelajari peta, tabel, diagram, dan skema

2.       Senang membuat corat coret atau sketsa

3.       Suka menjelaskan sesuatu dengan menggunakan gambar denah atau gambar lainnya

2. Verbal/Linguistic (Cerdas Kata/Word Smart)

Kecerdasan linguistic yaitu kemampuan menggunakan kata-kata. Ciri-ciri individu yang memiliki kecerdasan linguistik :

1.      Suka menulis, mengarang atau bercerita

2.      Cepat menghafal nama, tempat dan tanggal

3.      Senang membaca

4.      Suka berdebat

5.       Senang dengan aktivitas permainan kata

6.      Memiliki kosa kata yang luas

Kecerdasan linguistic dapat dikembangkan dengan berbagai latihan menulis, membaca puisi, bercerita, berdebat dll.

3.  Mathematical/Logical (CerdasLogika-Matematik/Logic Smart)

Kecerdasan logis matematika yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan pengolahan angka, kemahiran menggunakan logika atau akal sehat, kemampuan menghitung dan kemampuan memecahkan masalah.

Ciri-ciri cerdas logika adalah

1.      Dapat mencerna laporan

2.      Suka menganalisis dan membuat hipotesa

3.       Mampu menjelaskan masalah secara logis

4.       Mampu menghubungkan sebab akibat

5.       Menyukai pelajaran yang berhubungan dengan angka

4. Bodily/Kinesthetic (Cerdas Tubuh/Body Smart)

Kecerdasan kinestetik yaitu kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk beraktivitas dengan menggerakkan anggota tubuh sebagian ataupun seluruhnya. Contoh penari, atlet, artis dll

Ciri-cirinya adalah :

1.      Menonjol prestasinya dibidang olahraga

2.       Senang bergerak dan beraktivitas yang melibatkan gerak fisik

3.      Senang melakukan pekerjaan lapangan

4.       Gemar bongkar pasang mainan

5.  Musical/Rhythmic (Cerdas Musik/Music Smart)

Kecerdasan musical yaitu kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan menyanyi, mengingat melodi, mempunyai kepekaan terhadap nada atau sekedar menikmati musik. Contoh penyanyi, pemusik, pelatih vocal dll

Ciri-cirinya cerdas musik adalah :

1.      Senang memainkan alat musik

2.       Mudah mengingat melodi sebuah lagu

3.       Gemar mengalokasi berbagai album musik

4.      Suka menyanyi baik sendiri maupun didepan umum

6. Intrapersonal (Cerdas Diri/Self Smart)

Kecerdasan Intrapersonal adalah kecerdasan memahami diri sendiri, kecerdasan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Orang yang memiliki kecerdasan ini mampu menyadari emosinya dan dapat menemukan cara mengeksploitasinya.

Ciri-cirinya adalah :

1.      Bersikap realistis

2.       Mandiri

3.       Percaya diri

4.      Mampu mengambil keputusan

5.      Memiliki motivasi yang kuat

7. Interpersonal (Cerdas Bergaul/People Smart)

Kecerdasan Interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain. Kecerdasan ini diwujudkan pada pada kegembiraan berteman dan kesenangan dalam berbagai macam aktivitas sosial serta tidak merasa nyaman dalam kesendirian. Kecerdasan ini amat penting bagi keberhasilan dalam hidup karena banyak aspek kehidupan yang melibatkan interaksi dengan orang lain.

Ciri-cirinya adalah :

1.      Banyak teman

2.      Suka berkonsolidasi

3.       Aktif dalam kegiatan kelompok

4.       Suka dan mampu mengajar

8. Naturalist (Cerdas Alam/Nature Smart)

Kecerdasan Naturalis yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan untuk mengenali bentuk-bentuk alam disekitar kita dengan segala isinya.

Ciri-cirinya adalah :

1.      Menyukai hewan

2.       Senang berkebun

3.      Suka berada di alam terbuka

4.       Memiliki kesadaran tinggi terhadap masalah lingkungan

5.      Menyukai tugas lapangan

9. Existential (Cerdas Makna/Existence Smart)

Anak belajar sesuatu dengan melihat ‘gambaran besar’, “Mengapa kita di sini?” “Untuk apa kita di sini?” “Bagaimana posisiku dalam keluarga, sekolah dan kawan-kawan?”. Kecerdasan ini selalu mencari koneksi-koneksi antar dunia dengan kebutuhan untuk belajar (Anonimus; 2010).

C.    Kegiatan untuk Meningkatkan Kecerdasan Ganda

Sejumlah cara atau metode dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan – kemampuan individu. Setiap metode digunakan untuk meningkatkan jenis  kecerdasan yang spesifik yaitu:

  • Meningkatkan kecerdasan bahasa dapat dilakukan dengan cara mengadakan permainan merangkai kata, buatlah buku harian atau usahakan untuk menulis tentang apa saja yang ada dalam pikiran setiap harinya sebanyak 250 kata, dan sediakan waktu untuk bercerita secara teratur dengan keluarga atau sahabat.
  • Cara untuk meningkatkan kecerdasan spasial yaitu  seringlah berlatih permainan gambar tiga dimensi, puzzle, kubus, dan teka-teki visual lainnya, dekorasi ulang interior dan taman rumah, buatlah struktur benda dengan logo, atau bahan mainan tiga dimensi lainnya.
  • Meningkatkan kecerdasan matematis logis dapat dilakukan dengan cara berlatih menghitung soal-soal matematika sederhana di kepala ( berapa 21 X 40 dalam 5 detik), pelajari cara menggunakan sempoa, sering-seringlah mengisi teka-teki silang/asah otak lainnya.
  • Kecerdasan musikal dapat dilatih  dengan cara mengunjungi konser atau pertunjukan musik, bernyanyilah di kamar mandi atau di manapun yang memungkinkan untuk bersenandung, luangkan waktu selama satu jam setiap minggu untuk mendengarkan gaya musik yang tidak dikenal akrab (western, jazz, country, world music ,dll).
  • Meningkatkan kecerdasan kinestetik dapat dilakukan dengan cara bergabung dan berlatih bersama dengan klub olahraga di lingkungan, pelajarilah kegiatan dansa, kumpulkanlah berbagai  macam benda yang memiliki beragam tekstur dan bentuknya yang khas, cobalah  kenali benda-benda tersebut dengan mata tertutup.
  • Cara atau metode yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal yaitu: belilah kotak kartu nama, penuhi dengan nama kontak bisnis, teman, kenalan, kerabat, dan orang lain, serta tetaplah menjalin hubungan dengan mereka; luangkan waktu selama 15 menit setiap hari untuk berkomunikasi secara aktif dengan pasangan hidup atau sahabat dekat; bekerjasamalah dengan satu orang atau lebih dalam sebuah proyek yang berdasarkan pada kesamaan minat (seni kain perca, pemain bass, penulisan artikel tentang pantai).
  • Meningkatkan kecerdasan intrapersonal dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : pilihlah tokoh favorit yang positif, dan baca serta jadikan mereka sebagai kawan imajinasi dalam memecahkan suatu permasalahan yang membutuhkan waktu pemahaman yang dalam, lakukanlah sesuatu yang menyenangkan diri sekurang-kurangnya sekali sehari, luangkan waktu sekitar sepuluh menit setiap sore hari untuk meninjau kembali secara mental berbagai macam perasaan dan gagasan yang dialami.
  • Metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan naturalis antara lain  peliharalah hewan favorit, tingkatkan frekuensi melihat acara-acara mengenai program flora dan fauna, (ini yang paling mudah) cobalah untuk menahan diri untuk tidak merusak  lingkungan, seperti mencorat-coret meja, menginjak rumput kantor, memetik bunga yang sedang tumbuh.

D.  Faktor – Faktor Penting dalam Implementasi Teori Kecerdasan Ganda

Implementasi teori kecerdasan ganda dalam aktivitas pembelajaran memerlukan dukungan komponen-komponen sistem persekolahan sebagai berikut :

  • Orang tua murid
  • Guru
  • Kurikulum dan fasilitas
  • Sistem penilaian

Komponen masyarakat, dalam hal ini orang tua murid, perlu memberikan dukungan yang optimal agar implementasi teori kecerdasan ganda di sekolah dapat berhasil. Orang tua, dalam konteks pengembangan kecerdasan ganda perlu memeberikan sedikit kebebasan pada anak mereka untuk dapat memilih kompetensi yang ingin dikembangkan sesuai dengan kecerdasan dan bakat yang mereka miliki.

Guru memegang peran yang sangat penting dalam implementasi teori kecerdasan ganda. Agar implementasi teori kecerdasan ganda dapat mencapai hasil seperti yang diinginkan ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu :

  • Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan individu siswa
  • Kemampuan mengajar dan memanfaatkan waktu mengajar secara proporsional.

Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan ganda yang dimiliki oleh siswa merupakan hal yang sangat penting. Faktor ini akan sangat menentukan dalam merencanakan proses belajar yang harus ditempuh oleh siswa. Semakin dekat hubungan antara guru dengan siswa, maka akan semakin mudah bagi para guru untuk mengenali karakteristik dan tingkat kecerdasan siswa.

Setelah mengetahui kecerdasan setiap individu siswa, maka  langkah – langkah berikutnya adalah merancang kegiatan pembelajaran. Armstrong (2004) mengemukakan proporsi waktu yang dapat digunakan oleh guru dalam mengimplementasikan teori kecerdasan ganda yaitu :

  • 30 % pembelajaran langsung
  • 30 % belajar kooperatif
  • 30% belajar independent

Implementasi teori kecerdasan ganda membawa implikasi bahwa guru bukan lagi berperan sebagai sumber (resources), tapi harus lebih berperan sebagai manajer kegiatan pembelajaran. Dalam menerapkan teori kecerdasan ganda, sistem sekolah perlu menyediakan guru-guru yang kompeten dan mampu membawa anak mengembangkan potensi-potensi kecerdasan yang mereka miliki.

Guru musik misalnya, selain mampu memainkan  instrumen musik, ia juga harus mampu mengajarkannya sehimgga dapat menjadi panutan yang baik bagi siswa yang memiliki kecerdasan musikal.

Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda juga perlu menyediakan fasilitas pendukung selain guru yang berkualitas. Fasilitas tersebut dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam meningkatkan kecerdasan-kecerdasan yang spesifik.

Fasilitas dapat berbentuk media pembelajaran dan peralatan serta perlengkapan  pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda. Contoh fasilitas pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda antara lain : peralatan musik, peralatan olah raga dan media pembelajaran yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan spesifik.

Sistem penilaian yang diperlukan oleh sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda berbeda dengan sistem penilaian yang digunkan pada sekolah konvensional. Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda pada dasarnya berasumsi bahwa semua individu itu cerdas. Penilaian yang digunakan tidak berorientasi pada input dari proses pembelajaran tapi lebih berorientasi pada proses dan kemajuan (progress)  yang diperlihatkan oleh siswa dalam mempelajari suatu keterampilan yang spesifik. Metode penilaian yang cocok dengan sistem seperti ini adalah metode penilaian portofolio. Sistem penilaian portofolio menekankan pada perkembangan bertahap yang harus dilalui oleh siswa dalam mempelajari sebuah keterampilan atau pengetahuan (Fadil; 2010)

Menurut (Meliala: 2006), sebagai orang tua masa kini, kita seringkali menekankan agar anak berprestasi secara akademik di sekolah. Kita ingin mereka menjadi juara dengan harapan ketika dewasa mereka bisa memasuki perguruan tinggi yang bergengsi. Kita sebagai masyarakat mempunyai kepercayaan bahwa sukses di sekolah adalah kunci untuk kesuksesan hidup di masa depan.

Pada kenyataannya, kita tidak bisa mengingkari bahwa sangat sedikit orang-orang yang sukses di dunia ini yang menjadi juara di masa sekolah. Bill Gates (pemilik Microsoft), Tiger Wood (pemain golf) adalah beberapa dari ribuan orang yang dianggap tidak berhasil di sekolah tetapi menjadi orang yang sangat berhasil di bidangnya. Dengan demikian, IQ ataupun prestasi akademik tidak bisa dipakai untuk meramalkan kesuksesan seorang anak di masa depan.  Adapun hal yang harus dilakukan orang tua supaya anak-anak mempunyai persiapan cukup untuk masa depannya adalah dengan mengembangkan Prestasi dalam Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence), dan bukan hanya prestasi akademik. Jadi kemungkinan anak untuk meraih sukses menjadi sangat besar jika anak dilatih untuk meningkatkan kecerdasannya yang majemuk itu.

Untuk menjadi sungguh-sungguh cerdas, berarti anak harus memiliki skor yang tinggi pada seluruh kecerdasan majemuk tersebut. Walaupun sangat jarang seseorang memiliki kecerdasan yang tinggi di semua bidang, namun biasanya orang yang benar-benar sukses memiliki kombinasi 4 atau 5 kecerdasan yang menonjol. Albert Einstein, terkenal jenius di bidang sains, ternyata juga sangat cerdas dalam bermain biola dan matematika. Demikian pula Leonardo Da Vinci yang memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam bidang olah tubuh, seni, arsitektur, matematika dan fisika. Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik saja tidak cukup bagi seseorang untuk mengembangkan kecerdasannya secara maksimal. Justru peran orang tua dalam memberikan latihan-latihan dan lingkungan yang mendukung, jauh lebih penting dalam menentukan perkembangan kecerdasan seorang anak. Jadi, untuk menjamin masa depan anak yang berhasil, kita tidak bisa menggantungkan pada sukses sekolah semata. Ayah-Ibu harus berusaha sebaik mungkin untuk menemukan dan mengembangkan sebanyak mungkin kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing anak.

Posted on 11 Mei 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: