Artikel

Mr. Drakula Ikut Pesta
Oleh Silvia Iskandar

Edi berulang-ulang menarik dan menghembuskan nafas, ia berusaha keras menyembunyikan kegugupannya. Tidak seharusnya aku berada di sini!!! Edi menarik nafas panjang lagi.

“Kak Edi gugup ya?” Edi berdehem dan tersenyum, ia harus jaga image di depan kencannya malam ini. Edi memang bukan tipe orang yang pandai bergaul. Setiap ada kesempatan ia berusaha mengarahkan pandangan matanya ke bawah kecuali kalau ada orang yang mengajaknya berbicara. Seumur-umur baru pernah ia diundang ke pesta kostum.

“Ayo deh Ed, kalau kamu takut, atau grogi, aku minta adikku menemani kamu deh.” Edi akhirnya dengan tersipu-sipu mengangguk setuju untuk menghadiri pesta Halloween yang diadakan di sebuah hotel bergengsi di kotanya. Karin, gadis cantik nan populer di kampus yang selalu ia bantu dalam tugas-tugasnya, bersikeras mau membalas budi dengan mengajaknya ke Pesta Halloween. Duh..jangankan pesta Halloween…pesta yang biasa-biasa aja aku nggak pernah... Dan Laika, adik Karin, bukannya membuatnya relaks, malah menyebabkan Edi tambah gugup dan berharap sapu ijuknya bisa benar-benar membawanya terbang dari tempat ini. Soalnya, Laika lebih cantik dari Karin!!!

“Saya minta Singapore Sling satu ya Mas, Kak Edi minum apa?”

“Ummm…orange juice..” Edi langsung duduk di samping Karin di meja counter bar dan memandang bayangannya sendiri di meja bar yg dilapisi kaca. Ia terlalu gugup untuk mengajak Laika berbicara, Karin dan pacarnya telah meninggalkan mereka berdua. Duhh..ngomong apa ya...

“Malam, sendirian?” tiba-tiba seorang pria berkostum drakula duduk di sebelah Laika.

“Ooh..nggak…sama teman.”

“Edi.” Edi mengulurkan tangan dan menyalami pria ini, tangannya begitu dingin. “Laika” Laika yang berpakaian serba hitam dan berlipstik merah menyala juga menyalaminya dengan ramah.

“Drakula” Laila menjerit kecil dan tertawa begitu pria ini memperkenalkan dirinya dengan dramatis. Ia menunduk dan mencium punggung tangan Laika. Kurang ajar..Laika ‘kan kencanku malam ini! Kalau datang sendirian bukan berarti boleh merebut kencan orang dong!! Edi cuma bisa melirik dengan sebal ke Mr. Drakula ini dari bawah topi runcingnya. Edi tidak bisa menebak umurnya sama sekali. Mukanya pucat dan kulitnya terlihat begitu tipis.

“Dandan sendiri?” Laika bertanya sambil memandang kagum ke rambut licin dan telinga Mr.Drakula. Pertanyaan yang hanya dijawab dengan senyuman penuh arti dan sebuah kedipan nakal, “Coba tebak.” Lagi-lagi Laika terpekik senang.

“Saya pernah baca di buku teks kimia berbahasa Inggris, ada penyakit yang namanya porphyria, sebuah penyakit darah keturunan yang sangat jarang. Penyakit yang terjadi karena ada kesalahan dalam proses pembuatan hemoglobin, sebuah metalloprotein pengikat besi yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dalam darah. Hemoglobin terdiri dari empat protein heme yang tersemat di keempat globular protein (globin) yang membentuk hemoglobin. Heme sendiri adalah nama sebutan untuk cincin porphyrin yang berisi satu atom besi. Kegagalan genetik pada beberapa enzim yang berperan dalam biosintesis porphyria menyebabkan penumpukan beberapa precursor porphyrin spesifik di sel-sel darah merah, cairan tubuh dan hati.”

“Jadi?” Mr. Drakula menaikkan alis kanannya. Edi merasa terkejut sendiri karena ia lagi-lagi telah lepas kontrol, lupa mengerem kebiasaan buruknya, membombardir teman bicaranya dengan fakta-fakta ilmiah.

“Mmh..yah…ada sebuah isomer abnormal dari precursor porphyrin yang bernama Uroporphyrinogen I, molekul ini menyebabkan air seni menjadi berwarna merah dan gigi yang glow in the dark (bersinar dalam gelap). Kulit juga menjadi sangat amat sensitif terhadap sinar matahari, dan akibatnya tentu saja, penderita penyakit ini menghindari keluar di siang hari, yang menyebabkan warna kulit mereka jadi putih pucat .” Edi menyelesaikan kalimatnya dengan enggan, suaranya makin lama makin kecil di bawah tatapan mata Laika dan Mr. Drakula yang jelas-jelas menganggap dirinya aneh mengangkat topik yang sedemikian serius di tengah-tengah pesta kostum. Padahal niatnya hanyalah merebut perhatian Laika kembali.

“Hmmm…menarik…jadi menurut saudara, drakula hanyalah sebuah tokoh khayalan yang lahir dari informasi simpang siur mengenai para penderita penyakit porphyria ini?” berbeda dengan Laika yang wajahnya mulai kusut karena terseret dalam percakapan yang makin serius saja, Mr. Drakula justru menunjukkan rasa ingin tahunya.

“Yah..kira-kira begitulah yang saya baca. Penyakit ini menyebabkan penderitanya mengalami anemia yang sangat parah. Pada jaman sekarang, suntikan hematin, sebuah molekul turunan dari darah dapat meringankan serangan dadakan yang dapat berupa sakit di berbagai bagian di tubuh, halusinasi dan bahkan kejang-kejang karena penyakit ini dapat mempengaruhi sistem saraf juga. Fakta bahwa penderita Porphyria menderita anemia inilah yang saya rasa menciptakan mitos bahwa drakula gemar meminum darah.”

“Hmm… dan tidak tertutup kemungkinan bahwa orang-orang jaman dahulu yang belum kenal hematin berusaha mengurangi penderitaannya dengan minum darah?” tanya Mr. Drakula lagi sambil menatap Edi tajam-tajam.

“Wah…kalau soal itu saya tidak tahu…buku yang saya baca adalah buku ilmiah, tulisan di dalamnya mencoba mengupas masalah dari sudut pandang sains.” Edi lagi-lagi tertunduk dan menatap gelasnya. Biar bagaimana keras pun ia berusaha, pengetahuannya tidak cukup untuk meredam daya tarik Mr. Drakula yang luar biasa. Ia sendiri merasakan betapa dirinya terhanyut ke dalam atmosfir misterius yang tercipta dengan sendirinya dari suara Mr. Drakula yang tenang dan gaya bicaranya yang pelan, belum lagi matanya yang seolah-olah sanggup meghisap lawan bicaranya ke dalamnya.

“Aduuuh..udah deh jangan ngomongin yang susah-susah, ini ‘kan Halloween Party!! Tuh orang-orang lagi pada disko di dance floor!” Laika cembetut dan melirik ke arah Edi dengan kesal. Edi yang menangkap isyarat sebal dari Laika menundukkan wajahnya lagi dalam-dalam. Ia menatap wajahnya yang bulat dan berlemak yang memantul dari meja bar yang dilapisi cermin. Aahh…ini memang bukan wajah yang cocok untuk berada di ruangan ini. Topi penyihir yang bertengger di kepalaku ini pun hanya membuatku terlihat tambah tolol.

Tiba-tiba Edi merasakan dua belah tangan yang masing-masing memegang kedua lengannya. Edi menoleh dan terkejut melihat wajah Mr. Drakula yang begitu dekat di hadapannya.

“Edi, aku pinjam Laika sebentar ya?” tanyanya seraya ia lagi-lagi mengumbar senyumnya yang menawan. Melihat Laika yang tersenyum senang dan sudah berdiri serta siap mengikuti Mr. Drakula ke manapun ia pergi, Edi hanya bisa mengangguk kecil, “Uh..he-eh..” Dan ia pun terpaksa menundukkan kepalanya lagi melihat pantulan wajahnya sendiri di meja kaca.

“Edi, kamu mirip sekali dengan opa-mu waktu masih muda. Tapi ia jauh lebih pintar daripada kamu dalam menghibur wanita.” Edi terkejut dan menoleh, lagi-lagi Si Mr. Drakula yang berbisik di kupingnya. Selesai mengucapkan kata-katanya ia pun mengedipkan matanya ke Edi dan menyusul Laika yang sudah berjalan duluan ke arah dance floor, dan mereka pun langsung hilang di tengah lautan manusia.

Edi yang ditinggal sendirian hanya bisa ternganga. Bagaimana ia bisa tahu aku mirip opa? Bagaimana ia bisa tahu opa dulu dikenal sebagai perayu wanita? Dan kenapa wajah Mr. Drakula tidak terpantul oleh cermin yang memantulkan wajahku?! LAIKA DALAM BAHAYA!!!

Catatan :
Artikel ini dibuat berdasarkan fakta dan mitos yang ada. Dugaan bahwa Porphyria adalah penyakit di belakang mitos drakula pertama kali diajukan oleh David Dolphin, seorang biokimiawan di sebuah pertemuan American Association for the Advancement of Science pada tahun 1985. Penyakit Porphyria adalah penyakit genetika, penyakit keturunan yang tidak bisa ditularkan lewat cairan tubuh seperti darah (drakula yang bertambah banyak dengan cara menularkan ke-drakula-annya lewat menghisap darah dari leher korbannya hanyalah bumbu film horor belaka). Penyakit Porphyria ini terbagi dalam beberapa kelas, dan hanya beberapa di antaranya yang menyebabkan si penderita mempunyai gejala-gejala ke-drakula-an.

http://www.chem-is-try.org/?sect=artikel&ext=77

Posted on 14 Mei 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: