Rest In Peace : LPI

MALANG – Setelah berjalan sekitar enam bulan, Liga Primer Indonesia (LPI) akhirnya benar-benar dihentikan. Liga yang baru menuntaskan putaran pertama tersebut harus terhenti lebih dini karena PSSI menentukan format baru kompetisi di Indonesia.

Sebuah format yang intinya mengawali kompetisi dari nol, dengan melakukan penyaringan terhadap klub yang dinilai profesional. Babak baru persepakbolaan Indonesia ini secara otomatis juga menghapus putaran kedua LPI yang sedianya digelar pertengahan September mendatang.

LPi rela mati karena misi yang dibidik liga yang diprakarsai Arifin Panigoro ini telah menembus sasaran. Perubahan adalah landasan berdirinya LPI yang pertama kali mempertandingan Persema Malang kontra Solo FC di Solo pada 8 Januari 2011.

Perubahan terhadap status quo alias rezim Nurdin Halid yang dianggap ketinggalan zaman dalam menjalankan roda sepakbola nasional. LPI dibentuk sebagai daya tawar kepada insan bola, mungkin juga luapan kekecewaan, dengan visi menciptakan iklim kompetisi yang lebih modern.

Harus diakui LPI mempunyai daya rusak yang dahsyat, yakni terhadap tatanan di bawah kendali status quo. Hanya butuh waktu enam bulan saja efeknya sudah berhasil meluluh-lantakkan organisasi yang selalu memunculkan tokoh itu-itu saja di tiap periode kepengurusannya.

Benih yang ditanam Arifin Panigoro dengan modal tak terbatas, akhirnya berbuah tanpa menunggu lama. Bukan saja mengubah wajah kompetisi, tapi sekaligus mengubah wajah orang-orang yang mengendalikan PSSI.

Terpilihnya Djohar Arifin Husin dianggap sebagai kemenangan LPI. Memang, Djohar adalah tokoh yang diusung orang-orang LPI saat Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI 9 Juli silam dan saat ini sepak terjangnya tak bisa dilepaskan dari sosok Arifin Panigoro.

Kemenangan LPI dalam ‘mengakuisisi’ PSSI tampaknya jauh lebih bernilai dibanding harga sebuah kompetisi LPI itu sendiri. Biar pun kompetisi harus putus di pertengahan musim, terlihat jelas itu bukan sebuah masalah besar.

“LPI ada memang untuk membuat perubahan di sepakbola Indonesia. Sistem kompetisi yang modern dan profesional jauh bernilai dan kami sama sekali tak keberatan LPI harus dihentikan. Bakal ada kompetisi baru yang lebih hebat,” cetus Komisaris Utama Persebaya 1927 Saleh Ismail Mukadar.

Persebaya 1927 sendiri sebenarnya mempertaruhkan gengsi dalam keikutsertaan di LPI. Tim asuhan Aji Santoso memang finish di posisi teratas LPI putaran pertama. Namun untuk menyebut sebagai juara juga masih sulit karena putaran kompetisi belum 180 derajat.

Itu pun tak jadi soal. Bagi Saleh, mengubah wajah sepakbola nasional ke arah yang lebih maju dianggap lebih penting dari gelar juara. Separuh juara tepatnya. Persebaya yang sudah bosan menjadi anak tiri Nurdin Halid semasa ikut ISL, dengan sukarela menyandang predikat ‘separuh juara’.

Kompetisi yang diikuti 19 klub tersebut secara umum sebenarnya belum mendapatkan tempat yang istimewa dalam benak pecinta sepakbola. Maklum, kompetisi beserta klub peserta disiapkan secara instant dan malah terlihat dipaksakan.

Pemain lokal yang berlaga di LPI hanyalah pemain ‘antah berantah’ yang sebenarnya belum teruji di kompetisi level atas. Untuk menambah gereget, kompetisi ini mulai memperkenalkan istilah marquee player atau pemain bintang, salah satunya mantan pemain Aston Villa Lee Hendrie yang sempat berkostum Bandung FC.

Kalau ada pemain lokal yang berkualitas, itu masih bisa dihitung dengan jari. Biasanya pemain lokal yang mumpuni masih dimiliki klub yang notabene bekas ISL, seperti Persema Malang, Persebaya 1927, atau PSM Makassar. Di luar itu, statusnya ‘nyaris tak terdengar’.

Walau begitu, kontestan LPI mengaku cukup puas dengan langkah yang ditempuh liga ini. Timo Scheunemann, juru ramu tim Persema Malang, jauh hari sudah yakin LPI tak akan berlanjut. Nyatanya dia tetap enjoy dan tak ada sedikit pun penyesalan walau baru berstatus runner up.

Baginya, yang paling penting adalah kenyamanan bertanding. Yakni menjalani kompetisi tanpa terganggu urusan wasit yang tak adil atau persoalan di luar fair play lainnya. “Kalau kompetisi berjalan profesional, pemain dan penonton sama-sama enak,” kata Timo.

Maksudnya, “Penonton datang ke lapangan benar-benar mendapat hiburan. Bukan sepakbola dagelan yang bikin geregetan. Asalkan kompetisi yang baru nanti bisa profesional, saya pikir LPI dihentikan pun tak ada yang keberatan.”

Ia justru senang karena tidak akan ada lagi dikotomi tim ISL atau LPI karena semua akan berstatus sama lagi. Walau Persema belum tentu bisa menjadi runner up di kompetisi baru, Timo masih menyimpan optimisme tinggi dengan adanya jaminan fair play.

Kesimpulannya, LPI saat ini memang sedang memanen hasil jerih payahnya sejak dideklarasikan 24 Oktober 2010 di Semarang. Terlepas dari kontroversi yang senantiasa mengiringi, skenario yang disusun benar-benar happy ending. Minimal untuk mereka yang selama ini menjadi penganutnya. (Kukuh Setiawan/Koran SI/acf)

Sumber:

http://bola.okezone.com/read/2011/08/06/49/488799/rest-in-peace-lpi

Posted on 9 Agustus 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: